Cari Blog Ini

Sabtu, 26 Desember 2009

ASUHAN KEPERAWATAN DENTAL PLAGUE


KONSEP DASAR

A.DEFINISI

Plak gigi adalah lapisan transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar kepala gigi pada margin gusi. Plak mencegah dilusi asam normal dan netralisasi, yang mencegh disolusi bakteri pada rongga mulut. Plak gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan pada gigi. Perwarna yang digunakan juga khusus dikenal dengan nama disclosing agent. Gigi yang sudah disikat akan kembali berkontak dengan saliva (ludah). Mucin (salah satu zat yang terkandung dalam saliva) akan melapisi gigi. Lapisan ini kemudian dikenal dengan nama Acquired Pellicle (mucus). Acquired Pellicle ini sangat tipis, berkisar 1 um. Selain mucin dan protein lainnya, saliva juga mengandung banyak bakteri. Beberapa saat setelah Acquired Pellicle terbentuk bakteri juga akan singgah dan berkoloni di lapisan tersebut. Keadaan inilah yang kemudian disebut dengan plak gigi atau dental plaque.

Plak merupakan penyebab lokal dan utama terbentuknya penyakit gigi dan mulut yang lain seperti karies (lubang gigi), kalkulus (karang gigi), gingivitis (radang pada gusi), periodontitis (radang pada jaringan penyangga gigi), dan lain sebagainya. Oleh karena plak tidak dapat dihindari pembentukannya, maka mengurangi akumulasi plak adalah hal yang sangat penting untuk mencegah terbentuknya panyakit gigi dan mulut.

Selain itu plak ini juga berpengaruh terhadap kesehatan jaringan pendukung gigi seperti gusi dan tulang pendukungnya. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang menempel pada plak di atas permukaan gigi dan di atas garis gusi. Kuman-kuman pada plak menghasilkan racun yang merangsang gusi sehingga terjadi radang gusi, dan gusi menjadi mudah berdarah.

B. ETIOLOGI
Plak terbentuk akibat aktivitas bakteri yang mengubah sisa gula di atas permukaan emael gigi. Plak sangat sulit dibersihkan, namun jika dibiarkan menumpuk dapat memicu gangguan kesehatan oral yang lain, Akibatnya dapat menyebabkan berbagai penyakit gusi, seperti radang gusi (gingivitis) yang ditandai dengan gusi tampak kemerahan, agak membengkak, dan sering berdarah saat menggosok gigi.
Hal ini dapat berlanjut menjadi radang jaringan penyangga gigi lainnya (periodontitis) bila tidak segera dirawat. Bila sudah tahap ini dapat menimbulkan gigi goyang karena jaringan penyangga gigi sudah rusak.

C. PATOFISIOLOGI

Mulut merupakan suatu tempat yang amat ideal bagi perkembangan bakteri. Bila tidak dibersihkan dengan sempurna, sisa makanan yang terselip bersama bakteri akan tetap melekat pada gigi kita dan akan bertambah banyak dan membentuk koloni yang disebut plak, yaitu lapisan film tipis, lengket dan tidak berwarna. Plak merupakan tempat pertumbuhan ideal bagi bakteri yang dapat memproduksi asam. Jika tidak disingkirkan dengan melakukan penyikatan gigi, asam tersebut akhirnya akan menghancurkan email gigi dan akhirnya menyebabkan gigi berlubang

Selain itu plak ini juga berpengaruh terhadap kesehatan jaringan pendukung gigi seperti gusi dan tulang pendukungnya. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang menempel pada plak di atas permukaan gigi dan di atas garis gusi. Kuman-kuman pada plak menghasilkan racun yang merangsang gusi sehingga terjadi radang gusi, dan gusi menjadi mudah berdarah.

Bila dibiarkan, keadaan ini dapat menjadi lebih buruk dengan bergeraknya gusi dari perlekatannya dengan gigi, sehingga mempengaruhi tulang pendukung dan ligamen (jaringan pengikat) sekitarnya dan menyebabkan tanggalnya gigi.

Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya, dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat ini tidak tercium bau tak sedap.Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat. Namun, oleh karena berbagai faktor (misalnya biaya dokter gigi yang relatif lebih mahal daripada dokter umum) kesehatan gigi seringkali tidak menjadi prioritas. Kita hanya pergi ke dokter gigi kalau keadaangigi sudah parah dan rasa sakit tidak tertahankan lagi

Padahal, gigi yang sudah dalam keadaan terinfeksi berat dapat mempengaruhi kesehatan secara umum. Selain itu, gigi yang tidak terawat juga menyebabkan nafas tidak segar yang ujung-ujungnya bisa menghambat pergaulan.

D. TANDA DAN GEJALA

1.Warna gigi berubah

2.Bau mulut

3.Terdapat lapisan transparan yang melekat pada gigi

4.Terkadang terjadi perdarahan pada gusi

F. KOMPLIKASI

Masalah mulut lain yang mungkin muncul ;

Stomatitis adalah kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi, seperti tembakau; defisiensi vitamin; infeksi oleh bakyeri, virus, atau jamur; atau penggunaan obat kemoterapi.

Glositis adalah peradangan lidah hasil karena penyakit infeksi atau cidera, seperti luka bakar atau gigitan.

Gengikitis adalah peradangan gusi, biasanya karena higiene mulut yang buruk atau terjadi tanda leukimia, defisiensi vitamin, atau diabetes melitus. Perawatan mulut khusus merupakan keharusan apabila klien memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa mulut yang berhubungan dengan mudah mengarah kepada malnutrisi, yang merupakan perhatian utama bagi klien yang memiliki kanker (Griefzu, Radjeski, Winnick, 1990).

G. PENATALAKSANAAN (KONSEP PENYAKIT)

1. Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi dua kali sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan email gigi.

2. Bersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental

3. Perbanyak minum air putih

4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung.


II. KONSEP ASKEP

A. Pengkajian

1) Riwayat Kesehatan

Klien yang tidak mengikuti praktik hygiene mulut yang teratur akan mengalami penurunan jaringan gusi,gusiyang meradang,gigi yang hitam (khususnya sepanjang margin gusi),karies gigi, kehilangan gigi, dan halitosis. Rasa sakit yang dilokalisasi adalah gejala umum dari penyakit gusi atau gangguan gigi tertentu. Infeksi pada mulut melibatkan organisme seperti treponeme pallidum, neisseria gonorrhoeae, dan hominis virus herpes. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika klien hendak memperoleh radiasi atau kemoterapi,sangat penting mungumpulkan data dasr mengenai keadaan rongga mult klien. Hal ini berfungsi sebagai dasar untuk perwatan preventif bagi klien saat mereka melewati pengobatan ( Greifzu Radjeski, Winnick, 1990).

2) Pengkajian Fisik

Pengkajian perawat tentang bibir,gigi,mukosa buccal,gusi,langit-langit,dan lidah klien. Perawat memeriksa semua daerah ini dengan hati-hati tentang warna,hidrasi,tekstur,dan lukannya. Plak gigi yang telah keras disebut kalkulus atau tartar. Biasanya kalkulus berwarna kuning atau coklat.

Pengkajian rongga mulut klien dapat menunjukkan perubahan aktual atau potensial dalam integritas struktur mulut.

3) Pola Fungsional

a. Pola Nutrisi

- Nafsu makan

- Perawatan rutin terhadap mulut

- Masalah dengan makan

- Diet

b. Persepsi Kesehatan

- Persepsi tentang status kesehatan

- Kemampuan perawatan diri

- Tingkat pengetahuan tentang kesehatan

c. Persepsi Diri

- Sikap tentang diri

- Dampak sakit terhadap diri

- Keinginan untuk mengubah diri

- Ekspresi wajah

- Perubahan harga diri

B.Masalah Keperawatan

1.Resiko infeksi

2.Personal hygine

3.Defisit perawatan diri

4.Gangguan body image

5.Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan diri

C.Perencanaan

1.Resiko infeksi

Tujuan; mencegah terjadinya infeksi

Tindakan; Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung.

Membersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental.

2.Personal hygine

Tujuan; Tercapainya kebersihan diri

Tindakan; Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi dua kali sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan email gigi.

3.Defisit perawatan diri

Tujuan; Agar klien melakukan perawatan terhadap dirinya khususnya perawatan mulut.

Tindakan ; Menganjurkan untuk menyikat gigi secara teratur

Membatasi makan makanan yang dapat merusak gigi

4.Gangguan body image

Tujuan; Menghindarkan perasaan rendah diri

Tindakan:Memotifasi untuk tetap percaya diri

5.Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan diri

Tujuan;Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Tindakan;Memberi diit yang tepat

Menganjurkan untuk banyak minum air putih


Senin, 08 Juni 2009

Bagaimana pembersihan luka?

Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan untuk membersihkan luka dan cara mekanik yang tepat untuk memasukkan cairan tersebut tanpa menimbulkan cidera pada jaringan luka. Membersihkan luka dengan lembut tapi mantap akan membuang kontaminan yang bisa menjadi sumber infeksi, tapi jika dilakukan dengan kekuatan berlebih dapat menimbulkan perdarahan atau cidera.

Cara membersihkan luka abrasi, laserasi minor dan tusuk kecil;

  • Mencuci luka dengan air bersih

  • Bersihkan dengan sabun yang lembut dan air

  • Berikan antiseptic

  • Tutup luka dengan kasa steril atau biarkan terbuka sebelum mendapatkan pengobatan.

Antibiotik topical diberikan pada tepi luka dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang resisten.

Cairan pembersih luka yang dianjurkan adalah cairan salin normal, yaitu cairan-cairan fisiologis dan tidak membahayakan jaringan. Tapi cairan yodium dakin (natrium hipoklorit, asam asetat, hydrogen peroksida adalah jenis cairan yang bersifat toksin bagi fibroblast sehingga tidak boleh digunakan untuk membersihkan luka.

Membersihkan luka secara hati-hati dengan salin normal dan memasang balutan yang dibasahi larutan salin merupakan cara yang sering digunakan untk menyembuhkan luka dan melakukan debridement luka.

Pembersihan luka untuk;

  1. Type abrasion / vulnus excoriation

Bersihkan dengan air mengalir, cuci dengan sabun+air, keringkan, olesi dengan antiseptiksolution (mercurochrom), tutup denagn kasa steril atau biarkan terbuka.

  1. Laceration / vulnus leceratum

Kontrol perdarahan dengan menekan luka dengan kain / kasa yang steril / bersih. Bersihkan luka denagn air dan sabun, tutup dengan kasa dan plester.

  1. Puncture / vulnus ictum

Biarkan luka berdarah beberapa saat, bersihkan dengan air dan sabun, tutp dengan kasa dan plester.

Bila terjadi di dada atau perut ;

  • Tutup dengan kassa yang dibasahi air steril atau cairan fisiologis

  • Tutup lagi dengan pembalut kedap udara atau plastic

  • Bila benda masih tertinggal jangan dicabut

  • Kirim ke UGD

  1. Contusum

Kompres dengan es, olesi denagn trombopobe / lasonil

  1. Luka sayat / vulnus scisum

Cuci dengan air atau antiseptic, pasang pembalut kecil, lakuakn penekanan bila ada perdarahan, kirim ke UGD bila perlu.

  1. Luka tembak / vulnus sclopetorum

Jangan menggerakkan / mengeluarkan peluru, awasi dan atasi perdarahan, tekan area luka, tutup luka dengan kassa steril, observasi keadaan umum klien.kirim ke UGD.

  1. Amputasi jari

Atasi perdrahan dengan menekan langsuns pada luka / titik pembuluh darah yang bersangkutan / pasand tourniquet. Syarat tourniquet ;

  • Pada organ yang punya satu tulang; humerus, femur

  • Lima jari dari axial / 5 jari dari inguinal (selakangan)

Potonganamputasi masukkan dalan plastic berisi es. Bila kejadian kurang dari 3 jam organ belum mengalami nekrose dan dibawa serta ke RS.

Tutup luka dengan pembalut steril, tinggikan extermitas yang bersangkutan (40⁰ dari jantung), tidurkan klien dengan posisi supine. Masukkan potongan organ dalam kantong plastic tertutup kemudian masukkan lagi ke kantong lain yang diisi es → kurang dari 3 jam setelah kajadian organ belum nekrose / rusak.