Cari Blog Ini

Selasa, 15 Mei 2012

LP EMFISEMA

LAPORAN PENDAHULUAN
EMFISEMA

A.    PENGERTIAN
Menurut Brunner & Suddarth (2002), Emfisema didefinisikan sebagai distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli.
Sedangkan merurut Doengoes (2000), Emfisema merupakan bentuk paling berat dari Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) yang dikarakteristikkan oleh inflamasi berulang yang melukai dan akhirnya merusak dinding alveolar sehingga menyebabkan banyak bula (ruang udara) kolaps bronkiolus pada ekspirasi (jebakan udara).

B.     ETIOLOGI
Menurut Brunner & Suddarth (2002), merokok merupakan penyebab utama emfisema. Akan tetapi pada sedikit pasien (dalam presentasi kecil) terdapat predisposisi familiar terhadap emfisema yang yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin-alpha1 yang merupakan suatu enzim inhibitor. Tnpa enzim inhibitor ini, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Individu yang secara ganetik sensitive terhadap faktor-faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, dan alergen) pada waktunya akan mengalami gejala-gejala obstruktif kronik.

C.    KLASIFIKASI
Terdapat dua jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru, yaitu :
1.      Emfisema sentrilobular (CLE) atau sentrocinar
Secara selektif hanya menyerang bagian bronkiolus respiratorius. Dinding mulai berlubang, membesar, bergabung, dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang sewaktu dinding mengalami integrasi. Penyakit ini seringkali lebih berat menyerang bagian atas paru-paru, tetapi akhirnya cenderung tidak merata. CLE lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan dengan bronchitis kronik, dan jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok.
2.      Emfisema panlobular (PLE) atau panlocinar
Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal dari bonkiolusterminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. Jika Penyakit makin parah, maka semua koponen asinus sedikit demi sedikit menghilang sehingga akhirnya hanya tertinggal beberapa lembar jaringan saja yang biasanya berupa pembuluh-pembuluh darah. PLE mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata di seluruh paru-paru meskipun bagian-bagian basal cenderung terserang lebih parah, mempunyai dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktifitas dan penurunan berat badan.

D.    MANIFESTASI KLINIK
1.      Dispnea
2.      Pada inspeksi, pasien biasanya tampak mempunyai barrel chest akibat udara yang terperangkap, penipisan massa otot, dan pernafasan dengan bibir dirapatkan
3.      Ditemukan  hiperesonansi dan penurunan fremitus ditemukan pada seluruh bidang paru
4.      Pada auskultasi, menunjukkan tidak terdengarnya bunyi nafas dengan krekles, ronki, dan perpanjangan ekspirasi
5.      Pada tahap lanjut akan terjadi hipoksemia (kadar O2 rendah) dan hiperkapnia (kadar CO2 tinggi)
6.      Anoreksia
7.      Penurunan berat badan
8.      Kemungkinan terjadi distensi vena leher selama ekspirasi

E.     PENATALAKSANAAN
Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat kemajuan proses penyakit, dan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas untuk menghilangkan hipoksia.
1.      Bronkodilator
Digunakan untuk mendilatasi jaln nafas karena preparat ini melawan baik edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu baik dalam mengurangi obstruksi jalan nafas maupun dalam memperbaiki pertukaran gas.medikasi ini mencakup agonis betha-adrenergik (metaproterenol, isoproterenol dan metilxantin (teofilin, aminofilin), yang menghasilkan dilatasi bronkial melaui mekanisme yang berbeda. Bronkodilator mungkin diresepkan per oral, subkutan, intravena, per rektal atau inhalasi. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan, nebuliser balon-genggam, nebuliser dorongan-pompa, inhaler dosis terukur, atau IPPB.
2.      Terapi aerosol
Aerosolisasi (proses membagi partikel menjadi serbuk yang sangat halus) dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi. Ukuran partikel dalam kabut aerosol harus cukup kecil untuk memungkinkan medikasi dideposisikan dalam-dalam di dalam percabangan trakeobronkial. Aerosol yang dinebuliser menhilangkan bronkospasme, menurunkan edema mukosa, dan mengencerkan sekresi bronkial. Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus, membantu mengendalikan proses inflamasi, dan memperbaiki fungsi ventilasi.
3.      Pengobatan Infeksi
Pasien dengan emfisema sangat rentan terhadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. S. Pneumonia, H. Influenzae, dan Branhamella catarrhalis adalah organisme yang paling umum pada infeksi tersebut. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin, atautrimetroprim-sulfametoxazol (bactrim) biasanya diresepkan. Regimen antimikroba digunakan pada tanda pertama infeksi pernafasan, seperti dibuktikan dengan sputum purulen, batuk meningkat, dan demam.
4.      Kortikosteroid
Kortikosteroid menjadi kontroversial dalam pengobatan emfisema. Kortikosteroid digunakan setelah tindakan lain untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. Prednison biasa diresepkan. Dosis disesuaikan untuk menjaga pasien pada dosis yang terendah mungkin. Efek samping termasuk gangguan gastrointestinal dan peningkatan nafsu makan. Jangka panjang, mungkin mengalami ulkus peptikum, osteoporosis, supresi adrenal, miopati steroid, dan pembentukan katarak.
5.      Oksigenasi
Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat. Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan PaO2 hingga antara 65 – 85 mmHg. Pada emfisema berat oksigen diberikan sedikitnya 16 jam per hari, dengan 24 jam per hari lebih baik.

F.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Gangguan pertukaran gas b.d. gangguan suplai oksigen, obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara
2.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. peningkatan produksi sekret, bronkokontriksi
3.      Pola nafas tidak efektif b.d. nafas pendek, adanya sekret, bronkokontriksi, iritan jalan nafas
4.      Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, mual/muntah
5.      Resiko tinggi infeksi b.d. penurunan kerja silia, menetapnya sekret
6.      Intoleransi aktifitas b.d. keletihan, hipoksemia, dan pola nafas tidak efektif

G.    INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Gangguan pertukaran gas b.d. gangguan suplai oksigen, obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat memperlihatkan hasil dengan kriteria :
·     Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan
·     Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan / situasi


1.   Kaji frekuensi, dan kedalaman pernafasan

2.   Tinggikan kepala dan beri posisi yang nyaman pada klien


3.   Kaji dan observasi kulit dan warna membran mukosa secara berkala



4.   Lakukan postural draignase; suction bila diindikasikan


5.   Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan atau bunyi tambahan



6.   Batasi aktifitas klien atau dorong untuk tidur / istirahat selama fase akut

7.   Observasi TTV




8.   Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian penekan susunan saraf pusat seperti antiansietas, sedatif, atau narkotik dengan hati-hati
9.   Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi
§  Berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan dan / atau kronisnya proses penyakit
§  Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispnea
§  Sianosis perifer (pada kuku) atau sentral (pada bibir, daun telinga). Keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia
§  Kental, tebal, dan banyaknya sekret adalah sumber utama gangguan pertukaran gas. Penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif
§  Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan adanya spasme bronkus. Krekels basah menunjukkan cairan pada intestitial / dekompensasi jantung
§  Selama distres pernafasan pasien secara total tak mampu melakukan aktifitas karena hipoksemia dan dispnea
§  Takikardi, disritmi, dan perubahan TD dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung

§  Digunakan untuk mengontrol ansietas / gelisah yang meningkatkan konsumsi oksigen, eksaserbasi dispnea. Dipantau ketat karena dapat terjadi gagal nafas

§  Dapat memperbaiki / mencegah memburuknya hipoksia
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. peningkatan produksi sekret, bronkokontriksi
§   
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne. C, Bare, Brenda. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol. 1. Jakarta: EGC
Doengoes, Marylinn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC
Price, Sylvia. A. 1995. Patofisiolog: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4 buku II. Jakarta: EGC

LP Empiema

KONSEP DASAR EMPIEMA

I.             Pengertian.-
-    Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah,1997).
Empiema adalah  penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Baughman, 2000 ).
-    Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak  & Gallo, 1997 )
Penyebab.
-    Stapilococcus
-         Pnemococcus
Streptococcus.

II.          Patogenesis.
Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur:
a.        Sebagai komplikasi pneumoni  dan abses paru. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral .
b.       Secara hematogen, kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral
c.        Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks, abses dinding thoraks.

III.       Manisfestasi Klinik.
Demam, berkeringat malam, nyeri pleural, dispneu, arokreksia ,dan penurunan berat badan.
Tidak terdapatnya bunyi nafas; pendataran pada perkusi dada,  penurunan premitus

IV.       Evaluasi Diagnosis
Foto dada dan thoraksintesis.

V.          Komplikasi.
Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena.

VI.       Penatalaksanaan (Medik).
Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. Dicapai dengan drainase yang adekuat, anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan :
a.        Aspirasi jarum ( Thorasintesis ),jika cairan tidak terlalu kental
b.       Drainase tertutup dengan WSD, indikasi bila nanah sangat kental, pnemothoraks
c.        Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit.
d.       Dekortikasi, jika imflamasi telah bertahan lama.

VII.    Intervensi Keperawatan.
a.        Perawatan pada umumnya sama dengan  pasien pleuritis,  bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. Bila penyebab adalah kuman TBC maka, setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. 
b.       Bantu pasien mengatasi kondisi, instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik )
c.        Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural.     

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA .

Dasar data pengkajian.
  • Aktivitas  / istirahat.
Gejala ; keletihan, kelemahan, malaise.
            Ketidakmampuan melakukan  ADL karena sulit bernapas.   
            Ketidakmampuan untuk tidur.
            Dispneu pada saat istirahat.
  • Sirkulasi ;    pembengkakan pada ekstremitas bawah.
  •  Integritas ego;    peningkatan factor resiko, perubahan pola hidup.
  • Makanan/cairan ;   mual muntah  nafsu makan menurun .
  • Higiene ;   penurunan kemampuan melakukan ADL.
  • Pernafasan ;  nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum, riwayat pneumoni berulang ,  episode batuk hilang timbul.
  • Keamanan. ;   riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan.
  • Seksualitas. ; penurunan libido.
  • Interaksi social ; hubungan ketergantungan,  kurang sistem pendukung,  penyakit lama.
Prioritas Keperawatan.
1.  Mempertahankan patensi jalan nafas
2.  Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas.
3.  Meningkatkan masukan nutrisi
4.  Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi
5.   Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN, INTERVENSI DAN RASIONAL.

1.            Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame, peningkatan produksi secret, kelemahan
·         Kriteria hasal :
1.      Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih
2.      Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret
·                                                         Intervensi
a.        Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas, kaji dan pantau suara pernafasan
Rasional :
Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas, tachipneu merupakan    derajat yan ditemukan  adanya proses infeksi akut.
b.       Catat adanya atau derajat dispneu, gelisah ,ansietas dan distress pernafasan
Rasional :
Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi.
c.        Kaji pasien untuk posisi yang nyaman , misalnya peninggian kepala tempat     tidur.
Rasional :
Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
d.       Bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
Rasional :
Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi  dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara.
e.        Observasi karakteristik batuk
Rasional :
Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan.
f.        Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi  jantung.
Rasional :
Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret , mempermudah pengeluaran
g.       Memberikan obata sesaui indikasi
Rasional :
Merilekskan otot halus  dan menurunkan kongesti lokal, menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi mukosa.
2.            Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan  suplai oksigen , kerusakan alveoli .
Kriteria hasil
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat,berpartisipasi dalam program pengobatan.
·                               Intervensi
a.        Kaji frekwensi,kedalaman pernapasan
Rasional :
Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit
b.       Tinggikan kepala tempat tidur
Rasional   ;
Pengiriman oksigen  dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas.
c.        Auskultasi bunyi nafas  catat area penurunan aliran udara ,bunyi tambahan
Rasional :
Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara ,mengi ;  indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret, Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung.
d.       Palpasi primitus.
Rasional :
Penurunan getarn fibrasi  diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak
e.        Awasi tanda vital dan irama jantung.
Rasional.
Tachikardia ,disritmia, perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
3.            Diagnosa keperawatan  : Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan  dispneu, kelemahan, anoreksia, mual muntah.
Kriteria hasil :
Menunjukkan peningkatan berat badan  mempertahankan berat badan
Intervensi :
a.        Kaji kebiasaan diit ,catat derajat kesulitan makan
Rasional :
Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu, produksi sputum.
b.       Auskultasi bunyi usus .
Rasional :
Penurunan atau hipoaktif bising usus  menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas dan hipoksemia.
c.        Hindari makan yang mengandung gas.dan minuman karbonat
Rasional :
Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea.
d.       Hindari makan yang sangat panas dan dingin
Rasional :
Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk
e.        Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional :
Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan dan evaluasi  keadekuatan rencana nutrisi.
f.        Kolaborasi   dengan ahli gizi / nutrisi.
Rasional :
Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal  dengan upaya minimal pasien  /penggunaan  energi
4.                                          Diagnosa keperawatan  : Resiko infeksi
Kriteria hasil :
·         Mengidentifikasi  intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
·         Menunjukkan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi :
a.       Awasi suhu
 Rasional :
 Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi.
b.      Observasi warna ,bau sputum.
 Rasional :
Sekret berbau, kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi    paru.
c.       Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat.
Rasional :
Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan      memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi, peningkatan penyembuhan .
d.      Diskusi masukan nutrisi adekuat.
Rasional :
Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
e.       Kolaborasi pemeriksaan sputum.
Rasional :
Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab  dan   kerentanan terhadap anti microbial
5.            Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.
         Kriteria hasil :
Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit.
Intervensi :
a.        Jelaskan proses penyakit individu.
Rasional :
Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan
b.       Berikan latihan atau batuk efektif
Rasional :
Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan, membantu meminimalkan  kolaps jalan nafas.
c.        Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan  untuk menghentikan rokok.
Rasional :
Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan  PPOM
d.       Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum )
Rasional :
Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy .
e.        Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien
Rasional :
Menurunkan resiko kesalahan penggunaan  oksigen  dan komplikasi lanjut.

Daftar Pustaka


Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. EGC Jakarta.

Diana C. Baughman, ( 2000 ), Patofisiologi, EGC, Jakarta.

Hudak & Gallo, ( 1997 ), Keperawatan kritis : suatu pendekatan  holistic, EGC, Jakarta

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius Jakarta.

Marylin E doengoes. (2000). Rencana Asuhan keperawatan Pedoman untuk Perencnaan /pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC.Jakarta.