Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 07 Oktober 2010

Bahasa dan Bicara Anak

BAHASA DAN BICARA

Untuk Memenuhi Tugas Perkuliahan Keperawatan Anak





AKADEMI KEPERAWATAN

KARYA BHAKTI NUSANTARA MAGELANG

2010


1. PENGERTIAN

Ada perbedaan antara bahasa dan bicara. Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi.

Bicara adalah pengucapan, yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bicara adalah tahap perkembangan yang telah dimulai sejak bayi. Tahap bicara harus diperhatikan sedini mungkin, karena dapat dijadikan parameter ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada anak. salah satu cara berkomunikasi.

2. PENGKAJIAN BAHASA

  1. Anak Usia 1 – 6 Bulan

Pada tahap ini. Bayi berkomunikasi terutama dengan menangis dan bahasa tubuh. Mendekati usia 6 bulan, Anda bisa melihat perkenbangan di permainan suara atau ocehan bayi (Babbling). Bahasa penerimaan (Receptive Language) atau apa yang bisa di mengerti bayi, mulai berkembang pada usia ini. Perkembangan awal tentng bunyi (Phoneme Development) juga saat ini.

Menangis – Digunakan oleh bayi untuk mengungkapkan jebutuhannya pada saat itu. Anak-anak menggunakan level ketinggian suara dan kekerasan suara yang berbeda untuk memberi tahu pesan yang berbeda, misalnya : lapar, tidak nyaman, sakit, ingin digendong atau mengantuk.

Bahasa Tubuh – merupakan bentuk komunikasi non-verbal, atau mengungkapkan keinginan/kebituhan tanpa menggunakan kata-kata. Pada saat ini, bahasa tubuh meliputi mengangkat lengan dan kaki, menolehkan kepala, tersenyum dll.

Receptive Development – dimulai dengan kemampuanmengenali suara orang yang umumnya membuat bayi merasa nyaman. Mereka juga mulai menolehkan kepala ke arah suara-suara dan tersenyum. Seiring mereka tunbuh, mereka bisa merasakan perasaan si pembicara dari nada suara, terutama jika si pembicara sedang marah.

Phoneme Development – (perkembangan bunyi) – bunyi-bunyi fokal (a,i,u,e,o) adalah yang umumnya pertama digunakan anak-anak. Anda akan mulai mendengar perkembangan awal bunyi konsonan, misalnya konsonan yang dibuat di bagian belakang mulut (/k/ dan /g/). Mendekati tahap akhir periode ini, Anda bisa mengenali kombinasi konsonan dan vokal.

(WWW. Kabar-Indonesia. Com)

  1. Anak Usia 7 – 12 Bulan

Pada usia ini anak dapat menggunakan 2/3 kata, perbendaharaan kira-kira 300 kata “saya”, “aku”, “kamu”. Ada sedikit perkembangan pada jangka waktu ini dan Anda bisa mulai mengenali anak meniru pola bisara Anda. Bahasa tubuh berkembang menjadi berarti dan sosial. Ocehan bayi meningkat walaupun anak masih menangis seiring dengan bahasa tubuh sebagai cara utama untuk berkomunikasi. Phoneme development berlanjut dengan penambahan lebih banyak kombinasi konsonan dan vokal dari bicara yang mengandung arti.

Ocehan bayi (Babbling) – Ketika mendekati 12 bulan, babbling berubah menjadi kata-kata yang lebih mempunyai arti. Anak mulai menggunakan ungkapan yang mirip kata-kata untuk menamai benda. Jika kata-kata ini digunakan secara konsisten, bisa dianggap sebagai kata-kata yang mempunyai arti.

Receptive Lenguage – Anak mulai mengerti bahwa benda mempunyai nam dan akan melihat atau mengarah ke benda yang disebutkan. Walaupun receptive language-nya meningkat, anak tetap bergantung penuh pada isyarat-isyarat non-verbal dari pembicara untuk mengerti. Mendekati 12 bulan, anak ma,pu mengikuti perintah-perintah sederhana dan mengenali namanya sendiri serta beberapa bagian tubuh seperti mata, hidung, mulut, dll.

Phoneme Development – seiring dengan bunyi /k/ dan /g/, Anda mulai mendengar lebih banyak bunyi yang dibuat di bagian depan mulut (b, p, m, n) dikombinasi dengan bunyi vokal. Anak-anak juga bermain dengan suara, atau mengkombinasi konsonan dan vokal dengan pola mengulang.

(WWW. Kabar-Indonesia.Com)

  1. Anak Usia 13 – 36 Bulan

Anak dapat mengatakan 4-5 kalimat. Perbendaharaan kurang lebih 900 kata, menggunakan kata sapa “apa”, “dimana”, dalam mengajukan pertanyaan.

Pada masa ini, perkembangan bahasa anal meningkat dengan pesat. Ocehan bayi berubah menjadi kata-kata berarti dan perkembangan bunyi berlanjut. Receptive language mereka berkembang dengan pesat sekali.

Babbling/kata-kata berarti – Di awal fase ini, anak-anak mencampur-adukan kata-kata dengan ocehan. Mendekati akhir fase ini, kosa kata berkembang hingga meliputi 200 kata. Anak-anak juga mampu menamai benda-benda umum dan menggabungkan 2-3 kata menjadi suatu kalimat.

Receptive language – Di awal tahap ini, anak bisa mengerti dan menunjuk benda-benda umum jika disuruh. Kemampuan ini meningkat meliputi benda-benda yang sedang dilihat oleh anak. Menuju bulan ke-36, anak bisa mengikuti perintah 2 tahap. Kemampuan ini meningkat cepat, diiringi perkembangan bahasa ekspresif (mengungkapkan) yang lebih lambat sampai kira-kira usia 3-4 tahun.

Phoneme Development – Seperti receptive language, phoneme development meningkat cepat di fase ini. Anda mulai mendengar bunyi “n, t, d, h, k, da g”. Pola bicara bisa meliputi penggunaan konsonan /r/ digantikan /w/. Ini adalah normal dan terjadi karena anak belum mengembangkan konsonan /r/.

Anak Usia 4 – 5 tahun

Pada tahap ini, anak mempunyai perbendaharaan kata 1500-2100 kata, bisa menggunakan kalimat masa lampau “kemarin”. (Donna. L. Wong, 2004)

  1. Anak Usia 5 – 6 tahun

Pada tahap ini anak mempunyai perbendaharaan kata 3000 kata, memahami kata-kata jika, karena dan mengapa, menguasai “r”, “l”, “th” menyimpang pada “s”, “z”, “sh” dan “j”. (Donna. L. Wong, 2004)

3. GANGGUAN BICARA

Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah suara, masalah kelancaran berbicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan katakata,biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapatdisebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme oralmotor dalam fungsinya untuk bicara dan makan.

FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN BICARA

1. Faktor genetik atau keturunan

2. Anak-anak yang diasuh oleh orang tua/pengasuh yang pendiam.

3. Anak-anak yang dimanja sehingga tanpa bicarapun, missal hanya menunjuk-nunjuk, sudah mendapatkan apa yang diinginkan.

4. Otot bicara kurang terlatih karena seperti diketahui organ untuk bicara dan organ untuk makan adalah sama.

5. Adanya gangguan perkembangan seperti autisme, mental retardation, dan sebagainya.

6. Adanya keterbatasan fisik, seperti pendenga ran terganggu, bibir sumbing dan sebagainya.

7. Setelah diketahui faktor penyebab maka dapat diupayakan penanganannya baik yang bisa dilakukan oleh orang tua, tapi ada juga yang harus melibatkan ahli.

Keterlanbatan yang bisa ditangani sendiri

1. Menyebut nama-nama anggota tubuh misal, “ini tangan mama, ini tangan adek”.

2. Ketika anak bicara tidak jelas tapi kita mengerti maksudnya, maka perbaiki kata-katanya lalu minta dia untuk mengulangnya secara jelas. Misal, Ketika si kecil meminta susu tapi hanya menunjuk-nunjuk, maka orang tua bisa mengatakan. “ Adek mau susu ya, ayo bilang dulu”.

3. Mengucapkan nama benda yang digunakan sehari-hari dengan cara terus mengulang-ulang dan memintanya mengikuti.

4. Sering-seringlah ajak anak bicara terutama dalam suasana yang menyenangkan. Sesekali keraskan suara atau pertegas intonasi bila anak terlihat tak mengerti.

5. Jika ada konsonan yang masih sulit diucapkan di usia 12-18 bulan, beri kesempatan untuk terus mengulanginya.

Selain itu orang tua juga bisa melakukan terapi yang menyenangkan buat

anak yang kesulitan bicara, berikut caranya :

1. Meniup balon sampai besar atau membuat gelembung balon dari air sabun.

2. Meniup gumpalan tisu dari ujung meja satu ke ujung meja lainnya.

3. Meniup lilin

4. Main seruling / terompet.

5. Minum dengan sedotan kecil atau sedotan yang berkelok-kelok.

6. Berteriak dengan mulut terbuka lebar mengucapkan, “a, i, u, e, o”

Keterlambatan yang harus melibatkan ahli :

1. Sampai usia 12 bulan sama sekali belum nisa babbling (missal : baba, mama, dada).

2. Sampai usia 18 bulan belum ada kata pertama yang cukup jelas.

3. Terlihat kesulitan mengucapkan beberapa konsonan.

4. Sepertinya tidak memahami kata-kata yang jita ucapkan.

5. Terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, missal sambil ngeces atau raut muka berubah.

Anak-anak dengan kesulitan berbicara memiliki masalah dalam pengucapan, yaitu berhubungan dengan gangguan motorik, diantaranya kemampuan untuk memproduksi suara. Anak yang gagap dapat diketahui dari cara dia berbicara, dimana terjadi pengulangan atau perpanjangan suara, kata, atau suku kata. Biasanya sering terjadi pada anak laki-laki usia 2-3 tahun dan 5-7 tahun. Sangat sering disertai mengedip mata dan menggoyangkan kepala.

v DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Koping keluarga : Potensial terhadap perkembangan.

2. Resiko terhadap perubahan, perkembangan dan pertumbuhan

(lynda Juall, Carpenito. 2001)

1. INTERVENSI

a. Koping Keluarga : Potensial terhadap perkembangan.

Definisi : Penatalaksanaan yang efektif dan tugas-tugas adaptif oleh keluarga yang dilibatkan dengan tantangan kesehatan individual, yang sekarang memperlihatkan keinginan dan kesiapan untuk meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan dalam hal diri dan dengan klien (Lynda Juall. Carpenito. 2001)

Intervensi :

1. Bantu dalam pemecahan masalah.

2. Dorong berbagai pikiran, persepsi dan perasaan.

3. Bantu dalam berkomunikasi satu sama lain.

4. Latih anak berbicara dengan kalimat sederhana.

5. Motivasi keluarga untuk mengidentifikasi jenis dukungan yang diperlukan anak.

b. Resiko terhadap perubahan dan perkembangan.

Devinisi : Keadaan dimana individu beresiko terhadap kerusakan kemampuam untuk menunjukkan tugas-tugas kelompok usianya. (Lynda JUall. Carpenito. 2001)

Intervensi :

1. Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.

2. Kaji tingkat perkembangan anak dalam seluruh area fungsi menggunakan alat-alat pengkajian yang spesifik.

3. Berikan kesempatan bagi seorang anak yang sakit untuk memenuhi tugas perkembangan sesuai kelompok usia.

4. Rujuk ke program komunitas khusus untuk factor penyebab. Misalnya : pelayanan social, pelayanan keluarga, konseling.

5. Identifikasi lembaga yang mempunyai potensi untuk memberikan layanan yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

- Donna. L. Wong. 2004. Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

- Carpenito, Lynda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.

- www. Pewarta Kabar Indonesia. Blogspot. com

- www. Kabar Indonesia. com

Tidak ada komentar: